Mengenang Sang Maestro Campursari, Manthous
Budaya

Mengenang Sang Maestro Campursari, Manthous

Playen,(gunungkidul.sorot.co)--Jika mendengar nama Anto Sugiartono mungkin akan terasa asing bagi kebanyakan orang, akan tetapi bila kita mendengar nama Manthous akan mengingatkan semua orang pada musik campursari yang pernah berjaya pada tahun 1980 hingga tahun 2000-an.

Manthous merupakan putra daerah asli Kabupate Gunungkidul yang lahir di Kapanewon Playen pada tanggal 10 April 1950 silam. Sebagai maestro yang dikenang banyak orang, Manthous telah melahirkan banyak karya dan sejumlah penghargaan yang tidak terhitung jumlahnya. Bahkan lewat lagu ciptaannya, nama Gunungkidul bisa dikenal oleh masyarakat se-Indonesia.

Diceritakan oleh anak perempuannya yang paling muda, Anindya Janu Wardani bahwa sang ayah sebelum menjadi penyanyi campursari sempat bergabung dengan grup musik keroncong di Jakarta.

"Dulu sekitar tahun 1960-an bapak main alat musik Cello di grup musik keroncong. Jadi sebelum nyanyi itu main keroncong dulu," ujarnya saat ditemui di kediamannya di Padukuhan Playen I, Kalurahan Ngawu, Kapanewon Playen, Selasa (14/09/2021).

Pada masa itu, Manthous memang mengawali kariernya di ibu kota Jakarta dengan modal nekat. Bahkan kala itu Manthous sempat menjadi seorang pengamen jalanan. Kemudian ia bekerja di salah satu studio rekaman musik tanah air hingga pada akhirnya lagu campursari bisa didengar oleh banyak orang. 

"Jadi sebetulnya bapak itu (Manthous) nyanyi nggak disengaja. Awalnya kan kerja di studio nulis lagu buat penyanyi, terus ada produser yang nyuruh bapak buat coba nyanyi. Kalau produser itu insting kuat kan ya. Jadi produser itu bilang suaranya bapak bagus dan mulai dari situ selain nulis lagu buat orang, bapak juga nyanyi," ungkapnya.

Selama karirnya, Manthous telah menciptakan banyak lagu-lagu langgam campursari, seperti misal lagu Ngidamsari, Keroncong Tani, Lamis, Laring Gunung, Gethuk, Rondho Kempling, Sakit Rindu dan masih banyak lagi. Dari sekian banyak lagu yang ia ciptakan selalu menceritakan tentang kisah hidup, cinta dan mengenalkan pariwisata khususnya di Gunungkidul.

Diceritakan pula oleh Janu atau Ninuk sapaan akrabnya, selain dikenal sebagai legenda campursari Manthous merupakan sosok ayah yang pendiam namun bertanggung jawab terhadap keluarganya. Manthous juga dikenal pekerja keras dan memiliki keinginan yang sangat kuat.

"Kalau bapak itu orangnya lebih ke introvert. Karena memang sibuk banget, jadi dulu jarang ketemu tapi bapak sangat bertanggungjawab sekali dengan keluarganya," ucap dia.

Setelah kepulangannya menghadap Sang Khalik pada tahun 2012 silam, belum ada penyanyi yang sanggup menggantikan ataupun mengimbangi kemampuan sang maestro dalam membawakan lagu-lagu campursari yang khas seperti Manthous.

"Kalau lagu-lagu dari Manthous itu ada ciri khasnya tersendiri. Jadi beda sama yang lainnya dan itu yang susah diikuti sama penyanyi lainnya. Sebetulnya harapan saya suatu saat ada orang yang bisa membawakan lagu campursari seperti bapak dulu biar lagu-lagu campursari tidak hilang digerus zaman," harap Ninuk.