Nasib Penjual Walang Goreng Ditengah Hantaman Pandemi
Ekonomi

Nasib Penjual Walang Goreng Ditengah Hantaman Pandemi

Playen,(gunungkidul.sorot.co)--Penjualan belalang goreng berbagai varian rasa yang dijajakan pedagang di sepanjang jalan dekat rest area Bunder, Playen merosot drastis selama pandemi ini. Hal ini diakui oleh salah seorang pedagang walang goreng Sidiq Purnomo (43) warga Padukuhan Mulo, Kalurahan Mulo, Kapanewon Wonosari.

Kepada sorot.co Sidiq mengatakan selama kurang lebih satu tahun ini, penjualan belalang goreng miliknya terjun bebas dari yang biasanya 30 sampai 50 toples sehari kini rata-rata penjualan perhari hanya dibawah 10 toples saja.

" Bisa habis 10 toples, itu sudah bagus sekali," kata dia, Minggu (10/10/2021).

Selain pandemi, Sidiq dihadapkan dengan adanya penutupan tempat-tempat wisata di Gunungkidul selama PPKM. Otomatis penjualan belalang goreng semakin tak menentu, pasalnya sebagian besar pembeli adalah wisatawan dari luar daerah DIY. 

Bukan hanya itu, persoalan lainnya adalah mahalnya harga belalang mentah. Sidiq mengatakan saat ini memang bukan musim belalang, sehingga harga bahan baku dirasa makin mahal.

"Kalau musimnya itu kan pas mau musim hujan, kalau sekarang sekilo bisa sampai Rp 150 ribu," katanya.

Satu toples belalang goreng itu dijualnya seharga Rp 25 ribu. Meski harga belalang melambung tinggi, ia sama sekali tidak menaikkan harga jual belalang karena tak ingin mendapat komplain pelanggan.

Seperti warga lainnya, ia berharap pintu wisata segera kembali dibuka. Sebab dari situlah hasil pendapatan untuk kehidupannya sehari-hari bisa diperoleh.

Lain cerita dengan Suhartini (39), penjual walang goreng di Padukuhan Gadungsari, Kalurahan, Wonosari, Kapanewon Wonosari. Ia tergolong penjual veteran, sudah punya tempat bahkan sempat menyewa dua kios di kawasan Siyono dan Gading, Playen.

Namun dua kios tersebut kini tinggal kenangan Ia memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak dua kios tersebut karena pandemi menerpa sejak 2020 lalu.

"Kalau yang Gading tutup tahun lalu, Siyono baru Agustus ini," ungkap Suhartini.

Kondisi ekonomi yang sulit, ditambah hasil penjualan yang menurun membuat ia terpaksa memutus kontrak dua kios itu. Penjualan pun kini hanya terpusat di rumahnya.

Beruntung, Suhartini masih bisa mengandalkan pelanggan setianya. Paling banyak dari Jakarta dan Surabaya, namun tak sedikit pula pesanan datang dari Kalimantan hingga Sulawesi.

Ia mengaku pembeli yang datang ke rumahnya langsung masih cukup banyak. Pun begitu, penjualan secara daring tetap ia upayakan demi menambah penghasilan.