Kisah Penyandang Disabilitas, Semangat 36 Tahun Mengajar dari Tempat Tidur
Sosial

Kisah Penyandang Disabilitas, Semangat 36 Tahun Mengajar dari Tempat Tidur

Purwosari,(gunungkidul.sorot.co)--Usianya tak lagi muda. Tubuhnya tak seperti orang normal pada umumnya. Namun apa yang dilakukan Untoro (61) warga Padukuhan Klampok, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul ini sungguh luar biasa.

Meski tak lulus SMP dan memiliki keterbatasan gerak, tak sedikit masyarakat Padukuhan Klampok dan sekitarnya yang mempercayakan anak-anaknya belajar bersama mbah Un, sapaan akrabnya.

Disamping tempat tidurnya tersusun sejumlah buku mata pelajaran Sekolah Dasar (SD) dari kurikulum terbaru hingga yang lama. Buku itu ia gunakan untuk mengajar anak-anak yang datang menimba ilmu kepadanya.

Untoro memiliki jari tangan dan kaki tidak sempurna, bahkan ia pun tidak bisa duduk. Ia menceritakan sebelum kondisinya seperti saat ini, Untoro pernah mengalami insiden kecil saat usianya remaja hingga menyebabkan kelumpuhan.

"Dulu tahun 1974 saya pernah jatuh saat berladang. Awalnya saya mengeluh demam, namun setelah mengkonsumsi obat justru badan saya tidak bisa berdiri dan sampai sekarang," ucapnya, Kamis (25/11/2021).

Mulai saat itu, ia hanya bisa menghabiskan waktu berbaring di tempat tidur. Dari keterbatasannya itu, sudah tak terhitung lagi jumlah anak-anak yang datang belajar dengannya. 

"Dahulu sekitar tahun 1984 anak-anak cuma main ke sini, terus ada yang minta diajarin soal matematika. Kemudian saya coba bantu semampunya dan malah sampai sekarang," katanya.

Awalnya ia sempat bimbang lantaran perbedaan kurikulum saat itu. Tak hanya satu mata pelajaran, hampir setiap sore dengan jadwal yang telah ditentukan, mulai dari matematika, IPA, IPS dan bahasa Jawa ia ajarkan kepada anak-anak.

Meski hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SMP. Namun, kemampuannya tak kalah dengan guru sekolah formal. Rumus-rumus aljabar, pitagoras,, persamaan linier dan lainnya mampu ia jelaskan dengan baik menggunakan cara sederhana.

"Anak-anak yang datang ke sini biasanya sudah diajarkan materi di sekolah, tapi mungkin karena belum sepenuhnya paham kemudian saya ajari lagi," ujarnya.

Hebatnya lagi, selama ini anak-anak yang datang tak pernah dipungut biaya sepeserpun. Menurutnya, melihat anak-anak bisa belajar sungguh-sungguh sudah membuatnya senang.

"Saya justru takut, kalau minta bayaran nanti malah nggak mau belajar lagi. Paling terkadang anak-anak membawakan teh, gula sama kopi atau titipan hasil panen orang tuanya," ucap Untoro terbaring.

Menurutnya, pendidikan budi pekerti dan karakter menjadi hal yang sangat penting. Sebab adanya pengaruh globalisasi dan modernisasi membuat anak zaman sekarang kurang berkonsentrasi dalam belajar.

"Karena handphone anak-anak jadi malas belajar. Jadi harus banyak diarahkan supaya tidak melupakan sekolah," pesan Untoro.

Dengan kondisinya saat ini, Untoro tak pernah sedikitpun menyesali nasibnya. Ia tetap bersyukur meski terbaring lemah, saudaranya dengan sabar dan setia merawat setiap hari.

"Mas Untoro itu anak ketiga dari enam bersaudara. Selama ini saya yang mengurus," ujar Sundari, adik perempuan kedua Untoro.

Sundari bersyukur meski sakit kakaknya tidak bisa disembuhkan, namun semangat dalam melayani masyarakat sangat tinggi.