Menderita Lumpuh, Simbah Tinggal Bersama Dua Anaknya yang Berkebutuhan Khusus
Sosial

Menderita Lumpuh, Simbah Tinggal Bersama Dua Anaknya yang Berkebutuhan Khusus

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Diusianya yang senja, Waginah (91) warga Padukuhan Kalidadap, Kalurahan Gari, Kapanewon Wonosari harus hidup dalam keterbatasan ekonomi yang sulit. Ia hanya tinggal dirumah sederhana ditemani dua anaknya yang memiliki keterbelakangan mental.

Bahkan, Waginah hanya bisa terbaring karena kelumpuhan yang diderita. Ditambah kedua anaknya yang mengalami gangguan jiwa tak mampu merawatnya dengan baik.

Beruntung, Waginah masih mendapatkan perhatian dari cucunya perempuannya, Yatirah. Setiap hari sebelum bekerja, Yatirah selalu menyempatkan diri menjenguk neneknya untuk mengantar sarapan, memandikan atau mengganti pampers.

"Rumah saya di Kalurahan Selang ikut suami. Jadi sebelum saya berangkat kerja saya harus ke tempat simbah," ujarnya saat ditemui di rumah Mbah Waginah, Selasa (30/11/2021).

Sejak 6 tahun lalu, setelah kepergian ibunya Yatirah kini menggantikan peran sang ibu untuk merawat nenek sematawayangnya. 

Yatirah mengakui bahwa penghasilannya yang belum seberapa harus rela ia bagi untuk membeli kebutuhan sehari-hari sang nenek. Meski berat dijalani, namun karena rasa tanggungjawab dan cinta kepada sang nenek, maka hal inipun harus tetap ia lakukan.

"Saya kerja di tempat catering, tapi tidak setiap hari. Saya punya dua orang anak sudah SMA dan SMP. Penghasilan saya dengan suami harus saya bagi untuk kebutuhan keluarga dan nenek juga kedua paman saya," ujar Yatirah dengan mata berkaca-kaca.

Bahkan terkadang bila tidak memiliki cukup uang, dirinya harus berhutang terlebih dahulu agar nenek dan kedua pamannya tetap bisa makan. Yatirah mengatakan sebetulnya masih ada dua saudaranya yang tinggal di luar kota. Namun entah mengapa, kedua saudaranya itu sulit untuk ia hubungi.

"Sebenarnya masih ada dua anak simbah di Cirebon. Tapi ya kadang agak susah dihubungi" katanya.

Meski sudah menerima bantuan BLT dan PKH dari pemerintah, namun tingginya kebutuhan yang ia keluarkan tepat menjadi beban bagi dirinya. Dengan semua keterbatasan, Yatirah menyampaikan rasa syukurnya masih diberi kekuatan dan kesempatan untuk merawat neneknya tersebut.

"Dulu waktu saya masih kecil, nenek juga yang merawat saya. Sekarang bagaimanapun caranya saya harus bisa merawat simbah entah, bagaimanapun caranya," Yatirah.