Biaya Produksi Mahal, Petani Sayuran di Watusigar Beralih ke Palawija
Ekonomi

Biaya Produksi Mahal, Petani Sayuran di Watusigar Beralih ke Palawija

Ngawen, (gunungkidul.sorot.co)--Sejumlah petani sayuran di Kalurahan Watusigar, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul memilih beralih menanam palawija karena biaya produksi sayur mayur yang mahal.

Kami sering merugi bila menanam sayuran karena ongkos produksinya mahal, tapi hasilnya tidak terlalu banyak,” kata Patmi, salah seorang petani di Kalurahan Watusigar, Kamis (08/02/2024).


Dengan beralih ke palawija, kata dia, meski hasil yang didapatkan cukup lama namun biaya perawatan dan pemeliharaan terjangkau oleh para petani. 

Selama bertani petani bisa mengerjakan hal lain untuk menambah penghasilan. Ia memilih menanam padi, jagung, kacang tanah dan lain-lain.

Dari menanam palawija ataupun padi relatif lebih lama, namun biayanya tidak terlalu tinggi,” kata Patmi.

Sementara itu salah seorang petani lain, Saipul mengatakan meruginya petani sayuran karena harga obat-obatan dan pestisida yang semakin mahal. Sementara sayuran harus selalu diberi pestisida untuk merawat daun dan batang.

Biaya produksi tinggi itu karena memang kebutuhan pestisida itu tinggi. Dan harga pestisida memang semakin mahal,” kata Saipul.

Petani mengeluh harga jual sayuran terkadang tidak menentu. Selisih naik-turun harga penjualan pun cukup besar. Ada kalanya harga bayam atau kacang panjang bisa mencapai Rp 1.500 per ikat, tapi di lain waktu harganya bisa turun drastis menjadi Rp 500 per ikat.

Menurut dia, hal itu karena pasokan komoditi yang banyak sehingga harga jual dari petani rendah. Ditambah lagi, petani masih belum secara optimal melihat kebutuhan pasar sehingga mereka menanam komoditas yang sama dan akhirnya barang menjadi melimpah. (aldo)