Sepuluh Hari Belum Menetas, Wagimin Cemaskan Telur Ulat Sutranya
Ekonomi

Sepuluh Hari Belum Menetas, Wagimin Cemaskan Telur Ulat Sutranya

Playen,(gunungkidul.sorot.co)--Salah satu jenis serangga yang memiliki nilai ekonomi tinggi adalah ulat sutra. Ulat ini merupakan satu-satunya serangga sebagai penghasil benang yang bernilai mahal.

Seperti di wilayah Petak 5 Wanagama terdapat rumah pemeliharaan ulat sutra yang digunakan untuk pembudidayaannya. Wilayah tersebut terletak di Desa Banaran, Kecamatan Playen yang memiliki luas lahan sekitar 70 hektar.

Di Wanagama tersebut hanya terdapat satu orang yang bertugas menjaga, mengurusi, bahkan memberi makan ulat sutra di rumah pemeliharaan ulat sutra yang dinamakan Kantor Jagawana sebagai cikal bakal persuteraan alam Wanagama. Ia adalah Wagimin (70), warga Ngleri, Playen.

Dikatakan Wagimin, dalam perkembangan menjadi ulat sutra, telur ulat membutuhkan waktu 10 hari untuk penetasannya. Meskipun ulat yang telah menetas berukuran sangat kecil, namun nyatanya ulat jenis ini memerlukan makanan berupa daun murbei yang tidak sedikit.

Setiap pagi, siang, malam selalu diberi makan pakai daun murbei. Harus daun murbei, besaran itu, kalau bukan itu tidak mau,” ucap Wagimin, Minggu (08/04/2018).

Ditambahkan, Kantor Jagawana yang dijaganya mendapatkan telur ulat sutra pada tanggal 28 Maret lalu dari Bogor, Jawa Barat. Namun hingga kini telah melebihi waktu 10 hari belum juga menetas. Karena itu, saat ini terdapat mahasiswa dari fakultas UGM yang mencoba meneliti telur yang belum menetas lebih dari 10 hari itu. 

Nggak tahu kenapa belum netas, mungkin nanti diteliti mahasiswa kenapa masalahnya. Kalau perkembangannya sampai tingkat lima. Setelah netas dikasih makan 4hari, terus seharinya berhenti itu tingkat satu, dikasih makan lagi 4 hari, berhenti lagi jadi tingkat dua, terus gitu sampai tingkat lima. Kalau sudah tingkat lima diberi makan satu minggu diberi makan terus sampai ngokon (kepompong),” terang Wagimin.

Untuk dapat menghasilkan benang sutra, memerlukan proses yang tidak sebentar. Pengambilan serat benang pun berasal dari kokon atau kepompong ulat sutra. Dimana kokon tersebut harus direbus terlebih dahulu agar menghasilkan filamen benang yang benar-benar kuat tidak putus.

Seribu ulat itu bisa makan 10 kg daun murbei, itu dari kecil sampai ngokon. Menurut penelitian satu kilo kokon menghasilkan 10 meter benang,” tambah Wagimin. (wulan)