Buat Peti Mati Unik yang Dianyam, Sukses Tembus Pasar Internasional
Ekonomi

Buat Peti Mati Unik yang Dianyam, Sukses Tembus Pasar Internasional

Tanjungsari, (gunungkidul.sorot.co)--Beberapa peti mati nampak bertumpuk rapi di rumah Sarjono (38), tepatnya di Padukuhan Candi, RT 08/RW 01, Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari. Namun bukan peti mati berbahan kayu seperti pada umumnya, Sarjono membuatnya menjadi lebih ramah lingkungan.

Sebagai seorang perajin peti mati, pemandangan seperti itu nampak terlihat lumrah di rumahnya. Bermula dari keterampilannya dalam membuat anyaman, Sarjono dipilih oleh salah satu koperasi di Yogyakarta untuk dilakukan pelatihan, hingga mempercayakan dia membuat peti mati sebagai usaha baru.

Ya, peti mati yang dibuat Sarjono memang unik. Jika biasanya peti mati terbuat dari kayu, namun ia justru menganyamnya dari bahan mendong, rotan, jerami, dan bambu. Ingin lebih ramah lingkungan, ide ini lah tercipta.

Dengan menggunakan bahan-bahan tersebut tentu akan lebih cepat terurai apabila ditimbun dalam tanah. Inilah yang diunggulkan Sarjono dari usahanya. Terbukti peminat peti mati ramah lingkungan tidak hanya diminati masyarakat lokal saja, namun juga tembus pasar Internasional.

Pintar membaca peluang, mungkin ini kata yang tepat untuk Sarjono. Dengan keahliannya menganyam, ditambah di Gunungkidul belum ada usaha peti mati yang dianyam, mampu membuatnya sukses hingga sekarang. Meski baru dirintis awal tahun 2018 kemarin, namun Sarjono sudah mulai merasakan penghasilannya.

"Peminatnya orang Perancis dan Belanda. Kalau dari orang-orang kita justru jarang, hanya satu dua saja," terang Sarjono, saat ditemui di tempat produksi peti mati sekaligus rumah orangtuanya, Sabtu (21/07/2018).

Beruntung berkat keuletannya itu didukung dengan bergabungnya dia di koperasi Kota Jogja yang mau memberikan pelatihan. Hanya membutuhkan waktu 2 minggu saja, bapak 1 orang anak ini mengaplikasikan ilmu yang didapat dengan membuka usaha peti mati. 

Bahan-bahan alami lebih ramah lingkungan, beda dengan kayu. Ini tanpa menggunakan logam,” jelas dia.

Sudah 6 bulan usahanya berdiri hingga memiliki 6 orang karyawan. Setidaknya dalam waktu 1 bulan sebanyak 30 peti mati dengan ukuran yang bervariasi dapat ia buat bersama pekerjanya.

Untuk harga peti mati tersebut bervariasi, ukuran paling besar yakni 60 x 200 sentimeter dihargai Rp 1,2 juta. Ukuran sedang 172 x 57 sentimeter ia hargai Rp 1,1 juta, sedangkan untuk peti kecil ukuran 171 x 45 sentimeter seharga Rp 900 ribu. Harga tersebut, berdasarkan informasi yang didapat, baru harga setengah jadi sebelum ditambahkan papan, kain, dan bantal.

Omzet bersih paling tidak dapat 3,5 juta lah per bulan,” ungkapnya.

Kendati cukup berhasil dalam usahanya, namun Sarjono juga mengalami kendala. Pasalnya untuk menampung jumlah peti mati yang dibuat, rumah berukuran 12 x 8 meter tersebut terbilang cukup sempit. Apalagi selain peti mati, ia juga harus berbagi tempat dengan usaha yang lain.

"Ini usahanya semakin berkembang namun rumah ini sudah sangat sempit. Saya juga bingung nanti untuk menyimpan barang ini kalau musim hujan karena bisa menjamur," keluh dia.

Ia pun membutuhkan bantuan pemerintah atas kendala yang dihadapi, mengingat selama ini Sarjono belum mendapat sentuhan tangan dari mereka. Paling tidak, pemerintah ikut membantu memikirkan lokasi untuk usahanya tersebut.

"Saya berharap pemerintah bisa memberikan solusi bagi saya, sehingga program UKM itu tepat sasaran. Karena saya juga ingin usaha saya berkembang sehingga bisa lebih banyak menyerap tenaga kerja," harapnya.