Bekerja Sejak Kecil, Nanda Ingin Berangkatkan Ibu ke Tanah Suci
Sosial

Bekerja Sejak Kecil, Nanda Ingin Berangkatkan Ibu ke Tanah Suci

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Senyum yang tersirat di wajah Nanda Riyanto (19) menunjukan jika selama ini ia bersahabat dengan dunia yang dipijaknya. Namun siapa menyangka dibalik tubuh suburnya itu ada perjuangan yang dia hadapi bersama sang ibunda untuk melawan nasib.

Hanya hidup berdua bersama ibu, Sulastri (48), bertahun-tahun lamanya di rumah yang sederhana, laki-laki ini tak pantang menyerah ikut mencari nafkah. Sejak masih duduk di bangku menengah pertama, ia bolak-balik keluar masuk tempat penginapan di daerah Wonosari untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Bukan sebagai penjaja diri. Hidup serba keterbatasan dengan profesi ibunya sebagai tukang pijat, membuatnya harus rela menjadi seorang resepsionis sejak usianya masih belia. Tak tega melihat ibunya berangkat pagi dan pulang malam demi sesuap nasi, dia akhirnya memutuskan untuk meringankan beban wanita yang telah mengandungnya itu.

"Suami saya meninggalkan Nanda saat usia 2 tahun. Dia anak satu-satunya saya," terang Sulastri, Minggu (22/07/2018).


Waktu 24 jam sepertinya kurang bagi Nanda untuk menikmati hidup. Sejak pukul 17.00 WIB dia sudah harus berada di hotel untuk bekerja hingga pagi hari. Selepas itu, dia kerap mandi di hotel dan berangkat sekolah dari tempatnya bekerja. Hasilnya, Rp 600 ribu per bulan ia dapat sebagai upah. Uang tersebut digunakan untuk angsuran motor dan sisanya diberikan kepada sang ibunda. 

Ditemui di rumahnya di Padukuhan Wukirsari, RT 01/RW 03, Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari, Nanda bercerita bahwa hampir sehari dalam hidupnya hanya ia gunakan untuk bekerja. Hampir tak ada waktu baginya untuk bermain bersama teman sebaya. Bagaimana tidak, jam 7 pagi hingga 15.30 WIB ia sekolah, kemudian pulang ke rumah untuk istirahat karena jam 5 sore sudah harus bekerja hingga bertemu pagi.

"Saya kasihan melihat ibu. Saya ingin membantu dia, karena dulu waktu saya longgar. Daripada tidak ada kegiatan, saya memutuskan untuk bekerja," terang Nanda.

Namun bukan berarti pendidikan diabaikan begitu saja. Dibalik perjuangannya mencari uang, ia masih harus membagi waktu untuk sekolah sebagai kewajiban yang utama. Beruntung sejak SD hingga sekarang duduk di kursi SMK di Kota Wonosari, ia mendapat bantuan dari pihak sekolah lantaran kondisinya yang tak seberuntung teman lainnya.

Meski lelah ia rasakan, meski tak punya waktu untuk bermain bersama teman layaknya remaja lainnya, namun ia tak lupa untuk menorehkan prestasi akademik. Seolah ingin balas budi terhadap bantuan yang didapat dari pihak sekolah, ia tetap semangat belajar meski waktu malamnya ia habiskan untuk memeras peluh.

Alhasil, ia selalu masuk dalam 10 besar peringkat terbaik di kelas multimedia yang diambilnya. Tentu hal tersebut membuat sang ibu bangga karena masih bisa mengikuti pelajaran di sekolah, bahkan memiliki nilai yang memuaskan.

"Saya peringat ke-9 dari 33 siswa yang ada di kelas saya. Kalau di tempat kerja ada kesempatan untuk belajar maka buku saya buka dan saya mulai belajar," ucap Nanda.

Kendati demikian, perjalanannya tak semulus itu. Ibu Nanda sering dipanggil ke sekolah karena anaknya harus membagi waktu antara sekolah dengan bekerja. Hal ini tentu dikhawatirkan pihak sekolah apabila Nanda kelelahan hingga tak konsentrasi saat belajar. Namun dengan menceritakan kondisi ekonomi dan bukti prestasi Nanda, pada akhirnya sekolah memaklumi.

Nanda punya cita-cita besar yang begitu mulia. Dibalik keterbatasan ekonominya, ia ingin memuliakan sang ibunda dengan memberangkatkannya ke tanah suci. Oleh karenanya ia akan terus berjuang tanpa kenal menyerah demi sang ibu yang begitu dicintainya itu.

"Saya berharap setelah lulus SMK ada yang menawarkan pekerjaan yang lebih baik lagi. Saya ingin membantu ibu saya," harap Nanda.