Glinding Doro dan Bonggol, Makanan Khas Desa Pengobat Rindu
Kuliner

Glinding Doro dan Bonggol, Makanan Khas Desa Pengobat Rindu

Wonosari, (gunungkidul.sorot.co)--Glinding doro dan olahan bonggol memang sudah jarang ditemukan di pasar-pasar. Namun di Gunungkidul, makanan ini masih bisa dinikmati sepuasnya.

Berlokasi di Pasar Ekologis Argowijil, kedua makanan tradisional tersebut masih eksis. Dijual oleh Tumiyem (64), glinding doro dan olahan bonggol menjadi buruan pengunjung yang rindu dengan keunikan rasanya.

Dijelaskan oleh Tumiyem, glinding doro merupakan makanan peninggalan nenek moyang dengan olahan burung dara. Untuk membuat 150 glinding doro, dirinya menghabiskan sedikitnya 3 ekor burung dara yang ia beli dari penyetor.

Cara membuatnya pun tidak sulit. Tubuh dara yang telah dibersihkan lalu dihancurkan dengan cara ditumbuk halus. Setelah itu dicampur bersama parutan kelapa dan diberi bumbu rempah- rempah lalu dimasak. Barulah olahan tersebut dibentuk bulat dengan cara dibuat glindingan.

"Saya pakai 3 dara yang disetori oleh tetangga saya. Glinding doro itu makanan dari nenek moyang, makanan khas desa," terang Tum, sapaan akrabnya, Minggu (22/07/2018) pagi.

Rasa glinding doro yang gurih membuat dagangan Tum selalu ludes diburu pembeli. Apalagi harganya cukup terjangkau yaitu Rp 2 ribu saja. Setiap pasaran di hari Sabtu dan Minggu, ia bisa mengantongi sedikitnya Rp 85 ribu dari dagangannya itu. 

Selain menjual olahan dari burung dara, Tumiyem juga menjual bonggol, olahan dari bonggol pisang yang dicacah dan disayur layaknya gudeg. Tak kalah dengan glinding doro, olahan bonggol ini juga diminati pecinta kuliner tradisional karena rasanya yang gurih manis.

Semua ini saya pelajari dari nenek moyang dulu, mulai dari resep sampai cara buatnya,” tutur dia.