Dilema Musim Hujan, Produsen Pathilo Gigit Jari
Ekonomi

Dilema Musim Hujan, Produsen Pathilo Gigit Jari

Tanjungsari,(gunungkidul.sorot.co)--Pathilo merupakan salah satu makanan khas Kabupaten Gunungkidul yang menjadi salah satu camilan favorit masyarakat hingga sekarang. Namun sayang kini proses produksinya terkendala musim penghujan. Pasalnya makanan ringan berbahan dasar singkong ini harus mengandalkan terik matahari untuk proses penjemuran.

Satirah, salah satu produsen pathilo menuturkan bahwa dirinya tidak berani menanggung resiko memproduksi saat musim hujan. Bisa dibilang, kegiatan home industry miliknya kini mati suri, meski stok bahan baku masih bisa diperoleh.

"Saya pernah rugi 6 kuintal (singkong) harganya 600 ribu, dibuat pas hujan. Pathilo jadi mbawuk (jamuran), saya jual harganya cuma Rp 40.000. Pokoknya kalau sudah gerimis tidak jemur," tutur warga Cabean, Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, Selasa (12/03/2019).

Jika dimusim kemarau, produksi Pathilo yang dirintisnya dari tahun 1998 itu mampu mengolah singkong 4 ton selama 1 bulan. Di tempat usahanya, Satirah mempekerjakan 2 orang tenaga harian lepas dengan upah per orang Rp 40.000. 

Dari segi pemasaran, pathilo terbilang masih menjanjikan karena dijual seharga Rp 20.000/kilogram.

Pada musim kemarau, Satirah sendiri rata-rata setiap hari mampu mengolah minimal 80 Kg singkong. Ia pun tidak khawatir produksi Pathilo Ngudi Boga miliknya tidak laku jual karena permintaan pasar terus melonjak.

"Sudah ada pengepul yang mengambil," katanya.

Disinggung peralatan produksi yang menopang agar tetap bisa produksi pada musim penghujan, ia belum memiliki peralatan seperti oven untuk menjemur pathilo.

"Mboten enten alate. (tidak ada alatnya)," ungkapnya.

Satirah berharap agar ada pihak terkait memberikan bantuan berupa peralatan untuk menjemur pathilo guna menstabilkan produksi ketika musim hujan.

"Pokoknya ketiga rendeng (musim kemarau dan penghujan) saya siap produksi kalau ada alat oven," pungkasnya.

Saat ini Satirah memilih berjualan buah srikaya dan pisang di depan rumahnya karena tidak bisa mengandalkan pendapatan dari produksi pathilo di musim penghujan. Berkaca dari hal tersebut, sebagian pembuat pathilo lain pun lebih memilih beralih profesi bercocok tanam di ladang. (Hafied)