Tembakau Kini Tak Lagi Diminati Petani Cikal
Ekonomi

Tembakau Kini Tak Lagi Diminati Petani Cikal

Ngawen, (gunungkidul.sorot.co)--Menanam tanaman tembakau kini kurang bisa dinikmati hasilnya oleh petani. Dampaknya saat ini sebagian petani tembakau mulai melirik jenis tanaman hortikultura.

Sebagaimana yang diungkapkan petani di wilayah Padukuhan Cikal, Desa Watusigar, Kecamatan Ngawen. Pasca panen padi bulan April mendatang, petani yang semula bertanam tembakau sebagian besar memilih mengganti jenis tanaman holtikultura yang lebih menguntungkan seperti terong, cabai, tomat, dan timun.

"Sudah sekitar 80 % petani di sini cocok dengan holtikultura," tutur Sutrisno, Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur Desa Watusigar, Kamis (14/03/2019).

Padukuhan Cikal, Desa Watusigar, Kecamatan Ngawen sejatinya termasuk daerah penyumbang tembakau berkualitas di Kabupaten Gunungkidul. Namun lantaran terkendala tata niaga yang dirasa merugikan petani, tidak mendorong minat petani setempat untuk tetap eksis menanam tembakau. 

"Hari ini kita dituntut ekonomi, kalau holtikuktura kan 3 minggu sekali panen. Kalau tembakau kita tunggu paling tidak 3 bulan, itupun belum tentu kita dibayar cash sama pengepul," beber Sutrisno.

Pengakuan Sutrisno, faktor lain menunjukkan permintaan pasar di Kabupaten Gunungkidul akan tembakau lokal terlihat lesu. Sebab, kebutuhan pasar sudah dipasok tembakau dari Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Disisi lain, tembakau Garut berani mematok harga lebih murah dari tembakau lokal Gunungkidul. Saat ini harga tembakau lokal berkisar Rp 100.000 per Kg, sedangkan tembakau Garut Rp 70.000 per Kg.

Sutrisno berkeyakinan tembakau di daerahnya sangat potensial dan akan menjadi harapan penghasilan bagi petani apabila ada pengelolaan yang baik.

Dirinya meminta agar pemerintah bisa berada di tengah-tengah petani tembakau. Mengingat tahun 2014 hasil panen tembakau rutin mengirim ke Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

"Memang kita butuh pendampingan. Artinya disamping ada semacam fasilitas pembinaan, juga ada pasar yang bisa dipertanggungjawabkan. Kalau tembakau kita bisa masuk pabrik, pemerintah menfasilitasi, juga harga kalau bisa mengawal, artinya pengepul itu jangan se enaknya sendiri," pungkas Sutrisno. (Hafied)