Revalidasi Geopark, Tiga Tempat di Gunungkidul Bakal Dinilai UNESCO
Wisata

Revalidasi Geopark, Tiga Tempat di Gunungkidul Bakal Dinilai UNESCO

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Kabupaten Gunungkidul masuk ke dalam kawasan pegunungan sewu yang telah mendapat predikat Unesco Global Geopark. Predikat ini diraih pada September 2015 silam setelah melalui proses yang panjang.

Tahun ini, Unesco akan melakukan revalidasi atau penilaian kembali, apakah kawasan Pegunungan Sewu masih layak menyandang predikat sebagai kawasan geopark. Setelah direvalidasi, nantinya akan disimpulkan apakah kawasan Pegunungan Sewu ini masih layak disejajarkan dengan warisan dunia lainnya atau harus turun kasta.

Berbagai persiapan pun dilakukan untuk revalidasi tersebut, baik oleh pemerintah melalui Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Gunungkidul maupun oleh pengelola masing-masing obyek. Rencananya, revalidasi dari Unesco tersebut akan dilakukan pada Bulan Juni 2019 nanti.

Persiapannya yang jelas dokumen sudah kita kirimkan (ke Unesco), nanti tinggal nunggu asesornya Bulan Juni,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul, Asti Wijayanti, baru-baru ini.

Di Kabupaten Gunungkitul total ada 13 geosite yang telah ditetapkan menjadi salah satu warisan dunia. Namun tidak semua obyek nantinya akan dinilai oleh asesor dari Unesco, Asti mengungkapkan nantinya hanya ada tiga obyek yang akan dinilai. 

Yang kita targetkan untuk dilihat oleh asesor itu tidak semuanya ya. Paling diajak ke Ngingrong, Nglanggeran, sama Watu Payung,” lanjut Asti.

Geopark sendiri merupakan konsep pembangunan suatu kawasan yang berbasis pada nilai-nilai edukasi, konservasi, serta penumbuhan ekonomi lokal.

Menurut Asti, jika sebuah kawasan telah ditetapkan sebagai geopark maka pembangunan yang ada akan lebih baik, dimana masyarakat bisa memanfaatkan kekayaan alam tanpa mengganggu kelestarian alam itu sendiri.

Misalnya Nglanggeran, masyarakat sadar lingkungannya jangan sampai dirusak. Jadi bagaimana mereka bisa mengeksplor alam tanpa merusaknya tetapi bisa menumbuhkan ekonomi lokal,” tambahnya.

Menyinggung soal kawasan tambang dan industri yang kerap dianggap menjadi biang kerusakan bentang alam karst di Gunungkidul, Asti mengungkapkan saat ini pemerintah sudah sangat membatasi ruang gerak mereka.

Adapun beberapa titik penambangan yang sampai saat ini masih beroperasi menurut Asti dikarenakan pemerintah menyadari ada sebagian masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada usaha tersebut.

Kalau kendala utamanya, karena Gunung Sewu ini kan terletak di tiga kabupaten, tiga provinsi, jadi kendala utamanya paling masalah manajemen. Karena setiap kabupaten kan pasti punya kebijakannya masing-masing,” pungkas Asti.