Demam Berdarah Naik Tajam, Wonosari Jadi Rangking Pertama
Peristiwa

Demam Berdarah Naik Tajam, Wonosari Jadi Rangking Pertama

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Kasus Demam Berdarah (DB) di Kabupaten Gunungkidul tahun 2019 ini berkembang cukup cepat. Hingga pertengahan April ini, kasus DB di Gunungkidul sudah mencapai angka 191 kasus. Angka tersebut lebih tinggi daripada kasus DB yang terjadi selama tahun 2018 yakni hanya 124 kasus.

Adapun tiga kecamatan dengan kasus DB tertinggi yaitu Kecamatan Wonosari, Kecamatan Karangmojo, dan Kecamatan Semanu dengan jumlah kasus masing-masing 34, 31, dan 26 kasus. Sementara itu, Kecamatan Purwoasari menjadi satu-satunya kecamatan di Gunungkidul yang belum terjadi kasus DB sepanjang tahun 2019 ini.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Gununkidul, Priyanta Madya Satmaka mengungkapkan, cepatnya perkembangan penyakit DB di Gunungkidul karena tahun ini bertepatan dengan siklus tiga tahunan DB.

Itu sudah di luar kendali kita kalau hubungannya sudah dengan siklus. Karena siklus itu rentetannya karena perubahan musim, misalnya curah hujan. Jadi ada risiko perkembangan nyamuk itu lebih optimal karena adanya genangan air dalam jangka waktu cukup lama,” ujar Priyanta, Rabu (10/04/2019).


Jika ditarik ke belakang, kasus tertinggi wabah DB di Gunungkidul terjadi pada tahun 2016 dengan 1.154 kasus dalam setahun, tahun 2017 mulai turun menjadi 228 kasus, dan tahun 2018 kembali turun menjadi 124 kasus. Melihat pola itu, maka tahun 2019 memang saatnya terjadi siklus tiga tahunan. 

Selain adanya perubahan curah hujan, perubahan angin dan udara juga menjadi salah satu faktor terjadinya siklus tiga tahunan.

Terlepas dari faktor alamiah di atas, tingginya wabah yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul ini juga disebabkan karena budaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di tengah masyarakat yang masih rendah.

Hal ini ditunjukkan dari hasil pengamatan epidemiologi oleh Dinkes tentang ambang batas masyarakat yang di rumahnya terdapat jentik nyamuk, dimana Angka Bebas Jentik (ABJ) kurang dari 95 %.

Angka bebas jentik itu kalau bagus minimal 95 % atau lebih, jadi misal dari 100 rumah tangga itu yang punya jentik hanya 5 keluarga,” lanjut Priyanta.

Sebenarnya pemerintah sudah mencoba melakukan tindakan preventif untuk mengatasi mewabahnya penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti ini. Pada Bulan September 2018, Dinkes sudah mengirimkan surat edaran bupati ke setiap desa dan kecamatan yang intinya menginstruksikan untuk melakukan gerakan PSN dan prosedur untuk menangani kasus DB.

Diutarakan juga oleh Priyanta bahwa yang terpenting dalam pencegahan DB adalah PSN tersebut, adapun setiap temat penampungan air paling tidak dibersihkan atau dikuras minimal sekali dalam seminggu untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk. Adapun fogging merupakan langkah terakhir. Menurutnya fogging tidak bisa sembarang dilakukan karena nantinya justru bisa membuat nyamuk menjadi kebal.

Selain PSN, Priyanta juga menghimbau supaya masyarakat bisa lebih kreatif dalam memberantas perkembangbiakan nyamuk, misal dengan memelihara ikan di tempat penampungan air atau menanam bunga lavender.

Tapi itu kan hanya himbauan, karena tidak semua orang juga suka memelihara ikan ataupun aroma bunga lavender. Yang terpenting adalah pembudayaan gerakan PSN tadi. Itu saja sudah cukup sebenarnya, jangan sampai nyamuk itu diberikan kesempatan untuk berkembangbiak,” pungkasnya.