Culiko Nyidro Panguoso, Cara Margo Budoyo Sentil Pemimpin yang Menghalalkan Berbagai Cara
Budaya

Culiko Nyidro Panguoso, Cara Margo Budoyo Sentil Pemimpin yang Menghalalkan Berbagai Cara

Tanjungsari,(gunungkidul.sorot.co)--Pentas ketoprak sebagai adiluhung budaya tanah jawa tidak bisa dilepaskan oleh masyarakat karena didalamnya menceritakan sejarah yang dikemas dalam suatu pertunjukan. Terlebih jika hal itu dibumbui dengan alur cerita yang terkesan jenaka, maka seketika itu pula akan mendapatkan ruang tersendiri dihati masyarakat.

Namun pada perkembangannya ketoprak tidak selalu menitikberatkan pada sejarah, akan tetapi menentukan lakon dengan mengambil dari situasi dan keadaan masa kini.

Seperti pementasan ketoprak yang digelar pada malam bersih Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul pada Jumat (05/07/2019). Grup seni ketoprak dari Sanggar Margo Budoyo mengusung lakon atau cerita Culiko Nyidro Panguoso yang berarti kejahatan untuk menjadi penguasa.

Kita ambil lakon malam hari ini disesuaikan zaman, pemimpin sekarang seperti apa, keadaan sekarang seperti apa. Nah itu yang ingin kita ekspresikan lewat ketoprak. Jadi tidak harus cerita sejarah terus,” jelas Wakino, sang sutradara lakon Culiko Nyidro Panguoso.

Wakino menambahkan, dalam pementasan ketoprak dari awal hingga akhir menyimpan banyak makna. Ia berharap pada pementasan ketoprak dapat berkesan dan memberikan pelajaran dalam menjalani kehidupan. 

Walaupun cerita itu fiktif, harus kita ambil hikmah untuk bekal hidup intisari ceritanya gimana, lakon dan wataknya itu sebagai pengingat kita,” ucapnya disela pementasan.

Dalam sinopsis lakon Culiko Nyidro Panguoso menceritakan di suatu daerah atau kadipaten Selogiri dipimpin Adipati Suryokusumo memiliki seorang Tumenggung bernama Danupoyo. Danupoyo merasa telah lama mengabdi tapi tidak diberi penghargaan naik pangkat menjadi patih oleh Adipati Suryokusumo, sehingga dengan watak culas ia menghimpun kekuatan dengan menyewa kelompok preman untuk membuat rusuh kadipaten.

Agar Danupoyo terlihat sebagai sosok pahlawan di hadapan Adipati Suryokusumo, ia merekayasa seolah Danupoyo yang menangkap para preman. Singkat cerita watak angkara murka Danupoyo terbongkar oleh Adipati Suryokusumo. Atas perbuatan yang didalangi oleh Danupoyo, maka ia harus menerima hukuman kurungan penjara seumur hidup.

Pentas ketoprak yang berdurasi tiga jam tersebut mampu menarik perhatian masyarakat Desa Hargosari. Halaman pendopo balai desa penuh sesak hingga memadati jalan raya. Ketoprak pimpinan Sumarno tersebut juga ditonton langsung oleh Camat Tanjungsari ditemani Kepala Desa Hargosari, perangkat desa dan berbagai elemen Forkompincam.