Jelang Tahun Ajaran Baru, Penjualan Seragam Sekolah Masih Lesu
Ekonomi

Jelang Tahun Ajaran Baru, Penjualan Seragam Sekolah Masih Lesu

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Menjelang masuk tahun ajaran baru 2019/2020 berbagai perlengkapan sekolah mulai dipersiapkan, termasuk seragam sekolah. Namun sayang momen yang seharusnya dapat digunakan untuk meraup keuntungan, tetapi nyatanya belum dapat dirasakan secara maksimal oleh oleh pedagang seragam.

Seperti pantauan di Pasar Argosari Wonosari, sejumlah pedagang mengaku belum begitu merasakan nampak geliat kenaikan jumlah pembeli yang berburu seragam sekolah mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA.

Wiwik Pujiastuti, salah satu pedagang seragam di los pakaian lantai 1 Pasar Argosari mengatakan, beberapa hari menjelang masuk tahun ajaran baru tahun ini tidak seperti pengalaman berjualan tahun lalu.

"Sekarang ini beda sama tahun kemarin. Ya sudah ada sih satu-dua (yang beli). Tahun kemarin bagus sehari bisa 10 stel lebih sampai kurangan stok harus pesan lagi ke salesnya," jelas wanita asal Grogol, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Minggu (07/07/2019).

Wiwik menambahkan, seragam identitas sekolah di Kabupaten Gunungkidul yang bercorak walang sempat sebelumnya diburu banyak pembeli, tetapi tahun ini sama seperti seragam lain masih terlihat sepi. 

"Kalau seragam walang itu stok berapa kodi habis, tidak tahu kenapa ini sepi," imbuhnya.

Menurutnya, sepinya pembeli disebabkan kebanyakan sekolah sudah mengurusi seragam masing-masing dengan memberi siswa bahan untuk dijahitkan sendiri atau bahkan dibuatkan seragam jadi.

"Mungkin sekolah itu buat sendiri. Jadi yang ke sini paling beli karena sudah kekecilan dipakai," jelasnya.

Dalam menjajakan jualan seragam, Wiwik mendapatkannya dari konveksi di daerah Klaten, Jawa Tengah. Harga pun variatif sesuai jenjang pendidikan. Untuk satu stel seragam SD dijual seharga Rp 70 ribu, SMP seharga Rp 80 ribu, sedangkan SMA dijual dengan harga Rp 100 ribu.

Sama halnya dengan Ariyanti, dagangan seragam yang dijualnya belum ada peningkatan pembeli yang signifikan. Menurutnya, omzet yang didapatkan dalam berjualan bergantung pada posisi lapak untuk berjualan.

"Sudah ada sih, tapi belum kelihatan banget yang nyari seragam. Jualan gini kan tergantung juga lapaknya di sebelah mana, kalau ngumpet di dalem ya jarang yang nglirik," ujar dia.

Pengaruh lain sepinya pembeli karena ada sebagian yang mempertimbangkan kualitas, sehingga mencari seragam tidak di dalam pasar tetapi di swalayan atau toko yang khusus menjual seragam sekolah.