Bermodal Setoran Rp 20 ribu, Pemuda Temu Kembangkan Usaha Beromzet Jutaan
Ekonomi

Bermodal Setoran Rp 20 ribu, Pemuda Temu Kembangkan Usaha Beromzet Jutaan

Wonosari,(gunungkidul.sorot.co)--Berkat ketekunan menggeluti usaha kreatif memproduksi replika bunga hias, kini Karangtaruna Cahya Wira Muda Padukuhan Temu, Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari dapat menikmati manisnya hasil dalam berproses.

Melalui usaha kreatif bermodalkan iuran awal 7 anggota sebesar Rp 20 ribu, selama 4 bulan berjalan dari Maret hingga Juni, omzet yang mengendap di kas karangtaruna telah mencapai Rp 5 juta.

Dengan menggunakan alat kerja yang masih serba manual, Karangtaruna Cahya Wira Muda mampu menghasilkan replika bunga hias bernilai jual tinggi.

Bahan produksi replika bunga hias seperti akar pohon yang sudah mati, vernis, batu alam, rumput sintetis, daun plastik dan bunga plastik terbilang cukup mudah didapat.

Harga replika bunga hias yang dijual bervariatif, mulai Rp 35 ribu hingga Rp 200 ribu tergantung ukuran. Dari laba penjualan, nantinya akan dibagi hasil 65 % untuk pemasukan anggota, 10 % kas karangtaruna dan 25 % untuk saham anggota.

Hendi Purwanto, Ketua Karangtaruna Cahya Wira Muda menuturkan bahwa ia bersama anggota yang lain akan berupaya mengembangkan usaha kreatif sehingga yang awalnya hanya sekedar kegiatan mencoba akan memiliki aspek bisnis.

"Awalnya memang kita cuma coba-coba, setelah dipasarkan ternyata responnya bagus. Ini baru kita cari inovasi lain biar tidak untuk sambilan, tapi pokok," jelasnya, Minggu (07/07/2019).

Selama satu bulan, saat ini replika bunga hias dapat terjual sedikitnya 10 buah dengan pangsa pasar masih di lingkup Kabupaten Gunungkidul. 

Menangkap peluang bisnis online yang semakin pesat, Hendi berencana memasarkan hasil produksi dengan mengandalkan beberapa situs jual beli online.

"Saya lihat peluang jual beli online cukup menjanjikan, kedepan kita manfaatkan ke arah situ," ujarnya.

Menurut Hendi, tantangan yang dihadapi dalam pengembangan usaha kreatif yakni menjaga semangat anggota karangtaruna yang mayoritas diisi usia labil.

"Jadi hal tersulit saya rasa itu gimana caranya temen-temen terus semangat, karena kebanyakan usia labil yang semangatnya masih pasang surut," imbuh Hendi.