Pentas Teater di Tepi Kali Oya, Hidupkan Sandiwara Bahasa Jawa
Budaya

Pentas Teater di Tepi Kali Oya, Hidupkan Sandiwara Bahasa Jawa

Patuk,(gunungkidul.sorot.co)--Direktorat Kesenian Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggandeng Kelompok Teater Gunungsewu menggelar pentas teater di area Wulenpari, Desa Beji, Kecamatan Patuk, Senin (08/09/2019) malam. Pentas yang berlangsung di tepi Kali Oya ini ingin menghidupkan kembali kesenian lama sandiwara bahasa Jawa.

Pentas teater dengan judul Keblinger merupakan adaptasi dari naskah Dumeh karya Elyandara Widharta. Seniman ingin menceritakan kondisi dan pola kehidupan nyata masyarakat di Kabupaten Gunungkidul.

Karakteristik sosial dan budaya Gunungkidul, masih bersifat tradisional, dimana kesehariannya tetap memegah teguh tradisi dan budaya leluhur. Namun disatu sisi, masyarakat Gunungkidul mempunyai permasalahan dan dinamika sosial yang melingkupinya.

Karakteristik masyarakat secara umum dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya lingkungan dan tempat tinggal. Faktor itu secara tidak langsung berpengaruh pada pola kehidupan, sosial dan budaya masyarakat. Di Gunungkidul sendiri dibagi atas masyarakat kota, masyarakat sungai dan masyarakat gunung,” ujar Lukas Priyo, sutradara pementasan, Senin malam.

Lukas menyebut, pentas di tepi Kali Oya merupakan gambaran masyarakat sungai, hubungan manusia dengan sungai. Untuk masyarakat kota sendiri sudah dipentaskan pada Sabtu (06/07/2019) kemarin di Balai Padukuhan Gedangsari, Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari. Sedangkan masyarakat gunung akan dipentaskan pada Rabu (10/08) besok di Baturhill, Putat, Kecamatan Patuk. 

Lebih lanjut, Lukas mengatakan, pentas sepenuhnya digarap oleh seniman lokal Gunungkidul, yang sudah malang-melintang di dunia kesenian. Kedepan, dia juga akan menggandeng para pelajar sehingga pentas sandiwara bahasa Jawa dapat dikenal lebih luas.

Sementara Direktorat Kesenian Kemendikbud, Restu Gunanawan mengatakan bahwa pihaknya ingin menggali lokalitas yang ada di seluruh Indonesia. Gunungkidul menjadi pilot project bersama Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Tulungagung.

Tugas kita (Kemdikbud) memfasilitasi dan mendorong munculnya ruang publik untuk berkeseinan. Di tengah era global ini kita harus untuk menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal karena ada sisi-sisi yang mulai bergeser,” kata dia.

Menurut Restu, pentas sandiwara bahasa Jawa ini merupakan kesenian lama yang pernah ada dan perlu dihidupkan kembali. Pihaknya menggandeng komunitas desa dan seniman lokal agar kegiatan kesenian di desa-desa tumbuh dan menguat.